Analog, Album Kedua Indische Party

Dengan musik, mesin waktu bukan lagi cerita palsu. Lagu adalah kendaraan ajaib yang bisa membawa kita pergi ke berbagai jenjang waktu.

 

image

 

Analog merupakan tajuk dari album penuh kedua Indische Party yang dirilis pada 15 November 2016 lalu. Album ini dilepas secara digital di platform Spotify dan iTunes. Cukup kontradiktif mengingat judulnya Analog tapi dirilis dengan format digital. Ya, era digital memang sudah semestinya untuk dihadapi, meskipun keprimitifan memang jauh lebih beresensi. Hal positif dari ‘digitalisasi’ kali ini adalah saya bisa menyantap album baru ini dengan tepat waktu, benar-benar tepat waktu. Dalam catatan sejarah hidup (haha), Analog sepertinya menjadi album musik pertama yang saya dengarkan tepat di hari perilisannya. Tak butuh makan waktu untuk beli fisiknya terlebih dahulu, cukup streaming dan album ini bisa langsung saya nikmati tepat di hari kelahirannya di dunia.

 

image

 

Album Analog berisi 10 lagu yang seluruhnya adalah materi baru.  Dibanding album pertama, album ini mengalami peningkatan pada jumlah lagu yang berlirik bahasa Indonesia. Analog berisi 4 lagu berlirik bahasa inggris, 5 lagu dengan bahasa Indonesia dan digenapi oleh sebuah nomor instrumental berjudul  Atlantis 2015.

Di 3 lagu pertama, perhatian saya langsung tertuju pada bass yang dikendalikan oleh Iyo. Terkapar Sudah, I wanna Dance, dan Babe You Got A Hold On Me Somehow mengandung permainan bass yang begitu asik di dalamnya, pun ternyata masih begitu di lagu-lagu berikutnya. Selain sound yang dihasilkan keren dan berhasil melampaui usia jazz bass yang dipakai, pemilihan bassline Iyo di tiap lagunya juga memang patut diakui cerdas. Sederhana tapi selalu tepat. Asik.

Ingin Dekatmu tampaknya menjadi nomor yang menyajikan suguhan berbeda, terlepas dari judulnya yang berbau lagu pop. Vokal di lagu ini diisi oleh Tika yang hakikatnya adalah penggebuk drum di Indische Party. Lagunya sangat enak didengar, pelan dan mendayu. Vokal Tika mengalun bersama tuntunan suara bass Iyo yang begitu dominan. Saya rekomendasikan untuk memutar lagu ini saat hendak tidur, paripurna rasanya.

Ada satu lagu yang sangat saya suka tapi tidak untuk judulnya. Jika Ingin Dekatmu menjurus ke tipikal judul lagu pop Indonesia, lagu dengan judul Khilaf tampaknya terdengar seperti tipikal judul lagu-lagu dangdut pantura. Haha Entah kenapa judulnya bisa seperti itu, kurang keren sih jadinya. Haha Tapi untungnya cemarnya judul tersebut tidak menjangkit ke lagunya. Khilaf adalah lagu dengan notasi yang menarik dan mudah diingat. Di awal lagu, cara bernyanyi Jap Shadiq lumayan mengingatkan saya pada lagu-lagu anak yang umumnya bernotasi sederhana tapi menarik. Begitupun intro tengah yang diisi oleh gitar Kubil sangat terdengar menarik. Melodinya tidak neko-neko tapi begitu mengena di telinga.

Selain dalam lagu berjudul Khilaf tadi, melodi atau lead gitar berbahaya Kubil juga bisa dijumpai di intro tengah Babe You Got A Hold On Me Somehow. Saya sangat suka bagian tersebut. Interlude lagu I Wanna Dance juga bisa dibilang menjadi part penting dimana seorang Kubil bersenang-senang dengan senar-senarnya. Kemudian intro depan di lagu paling bengal berjudul Serigala juga patut diganjar satu kata : Sadis!. Isian isian blues juga bertebaran di sekujur lagu dalam album yang diproduseri bersama David Tarigan ini. Racikan sound gitar yang dominan oleh reverb di mayoritas lagu juga musti mendapat acungan dua jempol. Nice!.

Ingin Dekatmu, Khilaf dan Serigala menjadi 3 lagu favorit saya untuk album ini. Lirik bahasa Indonesia menjadi faktor pendukungnya. Haha Bahasa Inggris saya terbilang buruk, sehingga lagu mereka yang berbahasa inggris gagal saya santap dengan utuh. Have you ever cried dan Babe You Got A Hold On Me Somehow mungkin menjadi 2 dari 5 lagu berlirik inggris yang menurut saya paling ciamik dalam album ini. Ala-ala The Beatles memang, tapi berhasil terdengar beda terutama berkat gaya bernyanyi Jap Shadiq yang begitu eksentrik.

 

image

Mendengarkan Analog barangkali seperti kembali ke era lampau, ada suasana vintage yang begitu pekat saat mendengarnya. Di album pertama pun Indische Party telah melakukan hal yang sama, bedanya di album ini mereka ternyata semakin menjadi. Selain gaya musik Indische Party yang memang berkiblat kuat kesana, Analog kali ini lebih didukung oleh hasil keluaran bebunyian mereka. Dari teaser berwujud video yang telah lebih dulu diunggah di kanal youtube Indische Party, dapat diketahui bahwa di album kedua ini mereka memang lebih mengeksplorasi karakter suara setiap instrumennya. Dan usaha itu sepertinya berhasil.

Analog adalah salah satu bukti bahwa musik adalah perwujudan dari mesin waktu. Lagu-lagu di album Analog terbukti handal membawa saya menjelajah waktu, yang dalam kasus ini adalah mundur ke belakang, mungkin tepatnya era 60’an. Musik flamboyan nan asik Indische Party mampu membuat saya memanipulasi pikiran untuk membayangkan suasana lawas 60’an yang jelas-jelas tak pernah saya rasakan karena saya kelahiran 90’an.

 

Link Youtube :

Link Spotify :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s