Pak Polisi

Berkat ujian SIM, saya membenci Polisi.



Sial melanda beberapa waktu lalu ketika saya lupa memperpanjang masa berlaku Surat Izin Mengemudi. Tahun ini SIM saya habis masa berlakunya di akhir Maret, tapi saya baru menyadarinya pertengahan April. Awalnya saya pikir hanya perlu membayar denda atas keterlambatan tersebut, tapi ternyata peraturan baru berkata lain. SIM yang sudah lewat masa berlakunya ternyata kini tidak bisa diperpanjang lagi, melainkan harus membuat SIM baru lagi. Sial.

Selama ini saya belum pernah ikut ujian SIM. Baik SIM C maupun SIM A semuanya saya dapatkan lewat jalur belakang atau istilahnya nembak. Haha Dan kemarin saya memutuskan untuk tidak mengulangi dosa tersebut, saya bertekad membuat SIM secara murni alias tidak nembak. Awalnya lebih karena terpaksa sih sebenarnya.

Lalu sayapun mulai mengurus proses pembuatan SIM baru, saya putuskan untuk membuat yang SIM C saja dulu.

Setelah beres administrasi dan kelar antri foto, saya lalu melanjutkan tahap berikutnya, yaitu Ujian. Yang pertama adalah ujian teori. Nah, ujian teori ternyata bisa saya kerjakan dengan baik dan hasilnya lulus. Soal-soalnya tidak terlalu sulit, termasuk masih dasar dan mudah dikerjakan. Saya pun akhirnya lanjut ke tahap berikutnya yaitu ujian praktek.

Oiya, saya mengurus SIM C di kota kelahiran yaitu Pati. Ujian praktek disitu cuma ada satu jenis yaitu menjalankan motor di lintasan berbentuk angka 8. Awalnya saya memandang remeh, dan yakin bisa melakukannya dengan mudah, sepele belaka.

Tapi ternyata saya gagal! Haha Saya sangat kerepotan meladeni lintasan angka 8 tersebut. Beberapa kali saya menyentuh dan menjatuhkan patok yang ada. Kemudian saya diberitahu untuk kembali ujian seminggu lagi. Sial, saya remidi.

Nah, sepulangnya dari sana saya baru mulai menyadari kalau ujian praktek SIM C tadi cukup sulit. Mengendarai motor di lintasan angka 8 sejatinya adalah hal yang mudah, namun pembatas yang ada di kiri-kanan membuatnya jadi lebih sulit. Jaraknya terlampau terbatas dan benar-benar menghempit motor yang musti melintas masuk di antara keduanya.

Saya pun jadi skeptis, berpikir apakah memang sesulit itu ujian praktek yang disyaratkan? Saya makin meragukan hal tersebut. Saya pun googling sana-sini untuk mencari tahu Undang-Undang yang mengatur tata cara pelaksanaan Ujian SIM.

image

( Foto: twitter @satlantaspati )

Saya kemudian mendapatkan UU Perkap Nomor 9 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Ujian SIM. Perkap inilah yang seharusnya masih berlaku sampai sekarang. Setelah secara sekilas tapi berulang-ulang membaca Perkap tersebut, saya kemudian tahu bahwasanya Ujian Praktek yang saya kerjakan tadi tidaklah sama dengan apa yang diatur di dalam Perkap. Umpatan dan rasa kesal seketika berhamburan.

image

( Foto : Perkap No.9 Tahun 2012 )

Dalam perkap dijelaskan dengan baik bagaimana penataan patok untuk lintasan angka 8. Ada ilustrasi gambar disertai keterangan yang begitu detil juga. Patok diletakkan masing-masing hanya di sisi luar, atau salah satu sisi saja bukan secara mengapit seperti gawang.

Coba bandingkan dengan apa yang dijalankan oleh kantor polisi kota kelahiran saya, seperti dalam foto di bawah ini :

image

( Foto: twitter @satlantaspati )

_______

Seminggu kemudian saya datang kembali. Bukan untuk mengulang ujian tapi untuk mempertanyakan keabsahan pelaksanaan ujian prakteknya. Awalnya saya bertanya kepada petugas di lapangan namun kemudian saya disuruh masuk ke dalam ruangan. Saya kemudian dipertemukan dengan Kepala disana, sepertinya yang bagian pelaksanaan ujian SIM. Tanpa basa-basi saya menyampaikan keberatan dan pertanyaan saya atas pelaksanaan ujian praktek yang tidak sesuai Perkap itu.

Saya lupa siapa nama Kepala tersebut, seorang Bapak yang saya rasa umurnya jauh lebih tua dari ayah saya sendiri. Beliau menjawab dengan begitu panjang tapi tak terlalu tepat sasaran. Hanya berkelit dan berputar-putar. Intinya disana memang belum sesuai Perkap. Pak Polisi itu menjelaskan bahwa ujian Praktek SIM C disana tidak sesuai Perkap karena alasan keterbatasan tempat. Dan alasan kenapa ujian angka 8 diatur sedemikian rupa yaitu karena masih mengacu pada Perkap lama yang mana beliau sendiri tidak tahu itu Perkap yang mana. Haha

Buat saya, alasan tersebut tidak bisa dibenarkan. Keterbatasan tempat tidak bisa menjadi alasan yang bisa membenarkan keputusan mereka merubah penataan patok menjadi sedemikian rupa.  Tidaklah salah apabila saya merasa dipersulit oleh ujian yang tanpa dasar tersebut. Jadi tidaklah aneh juga jika saya berprasangka bahwa ada tujuan lain atas apa yang mereka lakukan itu. 

Kami terus berbincang, beliau masih kukuh dengan alasannya dan saya masih terus menolak alasan itu untuk menjadi sebuah pembenaran. Saya tetap menuntut untuk mengikuti ujian praktek angka 8 sesuai Perkap namun tetap tidak juga dikabulkan. Saya akhirnya diberi ganjaran lain yang beliau sebut dengan istilah “dibantu”. Saya pun ikut saja apa yang beliau maksudkan, namun dengan perasaan was-was atau khawatir kalau-kalau dimintai biaya lebih.

Setelah mengikuti arahan beliau, ternyata saya bisa memperoleh SIM C yang baru tanpa perlu lulus ujian praktek segala. Haha Dan saya pun hanya membayar biaya sebesar 75 ribu rupiah di loket BRI. Padahal seharusnya biaya penerbitan SIM baru adalah 100 ribu rupiah. Haha Mungkin aksi protes saya membuahkan hasil yang positif untuk saya pribadi, dan itu jelas menguntungkan. Haha

Saya anggap apa yang saya lakukan tadi bukan termasuk tindakan nembak karena pada dasarnya nembak adalah mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar dari semestinya. Sedangkan saya justru merogoh kocek yang lebih sedikit dari semestinya. Haha Memang hanya dalih dan pembenaran ngawur belaka. Tapi yang jelas saya sudah berusaha menuntut kebenaran tapi tidak dikabulkan, dan ternyata pihak yang berwajib sendiri yang memberikan arahan seperti itu, toh ternyata itu menguntungkan saya juga. Saya pun terpaksa ikut yang berwajib saja kan. Haha

image

_____

2 minggu berselang, saya akhirnya ganti membuat SIM A. Saya memutuskan untuk mengurusnya di Semarang karena ternyata pembuatan SIM sekarang bisa dimana saja, tidak harus sesuai KTP.

_____

Saya pun ke kawasan kota lama untuk segera mengurusnya.

Sampai disana, saya sangat kaget melihat pelaksanaan ujian SIM C nya. Ternyata ujian lintasan angka 8 disana juga sama persis dengan yang saya lakukan di Pati kemarin. Itu artinya mereka tidak sesuai Perkap yang berlaku. Seketika saya berkecamuk sendiri. Batin saya sangat menyayangkan kenapa di Semarang pun tidak sesuai Perkap. Seharusnya Semarang bisa menjadi contoh yang baik untuk menyelanggarakan ujian praktek SIM C yang sesuai dengan aturan. Saya tak tahu apa alasan mereka, yang jelas saya anggap mereka bertindak curang. Saya pun kembali berprasangka bahwa ada tujuan lain – yang picik – di balik itu semua.

image

Tapi mau apa, saya mending kembali dulu ke urusan saya sendiri, yaitu SIM A.

Saya pun mengurus SIM A saya. Ujian teori saya berhasil lulus, dan memang soal-soalnya sangat dasar dan cukup mudah dikerjakan. Saya lanjut ke tahap berikutnya yaitu ujian praktek.

Secara kasat mata Ujian praktek SIM A disana sudah sesuai dengan perkap. Dari uji maju dan mundur, zig-zag maju dan mundur, parkir seri dan paralel, serta yang terakhir uji naik dan berhenti di tanjakan. Saya mengamati peserta yang lain terlebih dulu. Rata-rata mereka gagal di ujian zig-zag, mereka banyak yang menyentuh dan menjatuhkan patok di ujian tersebut.

Kemudian tiba giliran saya. Saya pilih mobil bertransmisi manual yang saat itu adalah Suzuki APV. Kondisinya lumayan buruk, koplingnya tidak karuan, stirnya sama sekali tak terasa power steering padahal sudah power steering. Rasanya sangat berat dan jauh dari akurat. Sambil mulai ujian saya coba komplain ke petugas yang mendampingi saya,

“kok mobilnya gak enak gini ya Pak?”

Dengan enteng ia menjawab,

“namanya juga mobil ujian, yang pakai banyak.”

Saya pun langsung tertawa kecil saja. Ingin sekali saat itu saya berbisik pelan ke telinga kanan nya :

“titit penyu kalau punya mata juga tahu kalau yang ujian SIM itu banyak Pak.” Haha

Maksud saya adalah kalau sudah tahu yang bakal ujian SIM itu banyak kenapa tidak dirawat dengan lebih ekstra. Polisi seharusnya punya cukup akal untuk menghadapi resiko inheren tersebut, bukan malah berserah saja. Kesal sekali rasanya.

image

Saya berdamai saja dengan kondisi mobil tersebut. Saya terus jalankan saja itu mobil sembari adaptasi. Dan saya bisa lulus dengan mudah di ujian praktek yang pertama, yaitu jalan maju dan mundur, jelas itu sepele belaka.  Kemudian saya juga berhasil di ujian zig-zag baik yang maju maupun mundur. Lumayan juga kemampuan nyetir saya. Haha

Tapi ternyata saya gagal di ujian parkir seri. Saya menjatuhkan satu patok karena kurang menekuk sedikit di awal. Lebar ruang parkirnya memang sempit, hanya sisa beberapa cm saja dari lebar mobil. Sial. Saya pun diminta kembali lagi minggu depan untuk mengulang. Sial, sial, dan sial. Haha

image

_____

Seminggu kemudian saya kembali ujian. Di kesempatan remidi tersebut saya bertindak dengan lebih percaya diri. Dan sekali coba ternyata saya bisa berhasil di semua ujian yang tersisa. Haha Parkir seri sempurna, parkir paralel nyaris nyenggol tapi sukses, dan ujian berhenti di tanjakan juga bisa berhasil aman meski dengan Suzuki APV kronis itu. Haha

Sebelumnya saya sempat berdebat terlebih dahulu dengan petugas saat ujian ulang tersebut. Ketika telah berhasil parkir seri, saya sempat disuruh untuk mengulang sekali lagi dari posisi yang berbeda. Petugas berkata bahwa ujiannya memang dari 2 posisi berbeda. Tapi saya menolak karena saya tahu bahwa aturan di Perkap tidak seperti itu. Polisi itu hanya diam dan mempersilakan saya lanjut saja.

Saya juga menyampaikan keraguan saya atas ukuran lintasan parkir yang terasa cukup sempit dari semestinya. Tapi saya tak berani terlalu ngotot karena saya belum bisa membuktikan atau mengukurnya langsung, hanya perkiraan kasar saja. Beliau menjawab bahwa insyaallah sudah sesuai, karena yang membuat dari Mabes Polri langsung. Ya saya percaya tidak percaya saja ya. Haha

Dan SIM A baru berhasil di tangan!
120ribu! tidak nembak! Murni ujian! Haha

image

______

Jujur saja, berkat ujian SIM yang saya lakukan, saya menjadi benci Polisi, mungkin lebih tepatnya makin membenci. Haha Maksud saya bukan semua polisi lho ya haha Tapi minimal dari melihat bagaimana yang terjadi di 2 kota dimana pihak berwajib melaksanakan ujian praktek SIM dengan keliru itu bisa menjadi alasan yang mendasari rasa benci ini. Respek saya terhadap profesi mereka menguap drastis. Mereka mungkar, mereka melanggar ketetapan. Mereka mungkin punya tujuan yang baik, baik untuk diri sendiri.

Saya akhirnya bisa membuktikan sendiri secara langsung bahwa pihak berwajib memang bukanlah pihak yang selalu sesuai aturan apalagi mutlak bersih. Seharusnya mereka ibarat paket lengkap yang kompak dengan berbagai macam aturan, karena tugas utama mereka memang menegakkan aturan. Tapi yang terjadi kebanyakan ironis. Saya hakulyakin mereka tahu kalau apa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan yang baik, ya baik untuk diri sendiri. Haha Ironis, miris, hmm najis? Haha

Buat saya, mau bikin SIM nembak atau tidak adalah pilihan dari masyarakatnya sendiri. Saya pun tak mempermasalahkan apabila Polisi akhirnya mau membantu proses nembak-menembak SIM karena saya mengerti tidak semua orang punya waktu dan tenaga untuk mengikuti ujian SIM nya. Buat saya itu sudah tidak bisa dihindari, itu sudah lumrah, manusia sekarang memang menginginkan kepraktisan. Tapi minimal bagi masyarakat yang memang ingin mendapatkan SIM dengan cara murni atau lewat ujian, sudah seharusnya Pak Polisi melayani dengan benar dan sesuai aturan yang ada. Tapi sayangnya Pak Polisi malah melanggar aturan atau merekayasanya. Buat saya itu sama saja mempersulit masyarakat yang berjuang memperoleh SIM nya. Dengan kalimat lain, ada upaya dari Pak Polisi untuk mengarahkan masyarakat berbondong-bondong menempuh opsi nembak dalam mendapatkan SIM nya. Itu jelas cara yang picik, licik dan asik, buat mereka hasilnya tentu sangat asik. 

Dengan begitu mereka bukanlah wujud preman yang kasar dan barbar dalam meminta. Mereka tetaplah aparat yang bersikap baik dan tampak benar. Mereka cuma memberi sedikit vermak yang tidak ketahuan, tapi efeknya bisa sangat mempan. Dengan begitu mereka tak akan memaksa dan tak meminta secara terang-terangan. Masyarakat sendiri yang akhirnya mau tak mau musti meminta uluran kasih mereka. Mereka aman. Hmm

Ini hanya opini pribadi yang berdasarkan pengalaman pribadi, memang subjektif tapi tidak ada maksud menjelek-jelekan yang tanpa sebab maupun tanpa alasan. Semua bisa dipertanggungjawabkan.

Yang pasti, rupiah adalah yang mereka dapatkan. Haha masih punchline! Haha

  

Advertisements

6 thoughts on “Pak Polisi

  1. Yg menarik lagi adalah di tkp satpas pati ujiannya cuma lingkaran 8. Lah di satpas wonosobo zig zag dan angka 8. Mungkin saya harus k pati dan bawa bukti perkap meniru langkah anda 😄

    Like

  2. Aduh mas , saya jadi mau bikin di tempat sampean .
    Klo saya di Jakarta resmi nya tuh kurang dari 200 ribu ,
    Tapi kalo lewat biro jasa yang notabene adalah calo yg terorganisir itu malah sampai 800 ribu per sim A/C .
    saya jelas merasa kemahalan dengan harga segitu .
    Tapi mau bagaimana lagi , kalo mengurus sendiri yah tidak pernah ada yg berhasil .
    Ada saja yg jadi kegagalan , Terutama di saat praktek .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s